Bertahan Ditengah Pandemi, Nelayan Ini Sulap Limbah Kayu Jadi Kerajinan

KOTABARU (eMKa) – Ditengah situasi pandemi Covid-19 yang masih saja dirasakan oleh masyarakat dan dalam setiap harinya ada saja penambahan pasien yang terkonfirmasi positif maupun yang sembuh, hal tersebut tentunya berimbas pada perekonomian masyarakat.

Seperti yang dirasakan komunitas nelayan yang berada di Desa Gedambaan, Kecamatan Pulau Laut Sigam, Kabupaten Kotabaru. Meskipun pandemi bukan suatu halangan mencari tangkapan ikan dilaut, akan tetapi musim juga mempengaruhi aktifitas nelayan saat akan turun mencari ikan.

Sutanto, salah satu nelayan Gedambaan mampu memanfaatkan waktunya untuk bisa membuat kerajinan dari limbah-limbah kayu yang biasa dijadikan sebagai kayu bakar di dapur. Menurutnya, di masa pandemi sekarang, aktifitas terpaksa harus banyak di rumah karena untuk memutus mata rantai penyebaran virus dan itu sebagaimana anjuran pemerintah.

Hanya saja, Sutanto dan beberapa orang rekannya justru memunculkan ide gagasan untuk bisa memanfaatkan limbah kayu bakar agar bisa di jadikan kerajinan tangan yang bernilai seni tinggi. Seperti yang dilakoninya sekarang, dan ditangannya limbah kayu akasia, sungkai dan lainnya dapat diubah menjadi miniatur kapal dan ada beberapa unit yang sudah di buatnya seperti kapal berjenis pinisi, kapal angkutan penumpang, kapal pesiar dan miniatur perahu nelayan.

“Alhamdulillah saya dan beberapa orang rekan disini dapat membuat kerajinan semacam itu, awalnya hanya coba-coba untuk bisa membuatnya dan idenya sendiri muncul karena kami terlalu sering berdiam diri dirumah sehingga mucul ide kreatif,” tutur Sutanto kepada eMKa News.

Dijelaskannya lebih jauh, untuk proses pembuatannya sendiri, 1 unit kapal bisa memakan waktu kurang lebih selama 1 bulan lamanya tergantung dari jenis kapal apa yang  akan dibuat. Sementara, untuk bahan bakunya didapat dari sekitaran rumah dan mencari pada kawasan bukit yang tak jauh dari permukiman penduduk.

“Biasanya kayu-kayu itu hanya dimanfaatkan sebagai kayu bakar saja dan sekarang kami mencoba membuat kerajinan dari limbah tersebut. Bahkan, untuk kapal pinisi yang belum selesai di buat sudah ada orang yang datang ingin membelinya, namun belum kami jual karena pekerjaannya belum finishing,” tambahnya.

Ia berharap kerajinan tangan tersebut dapat menjadi perhatian oleh pemerintah daerah dan kedepannya bisa dijadikan sebagai salah satu andalan yang mana masyarakat nelayan Desa Gedambaan juga bisa membuat kerajinan tangan.

“Mudah-mudahan ini bisa mendapatkan perhatian dan tidak menutup kemungkinan kalau kami ada punya dana lebih akan mengikutkannya pada ajang pameran expo dan itu juga sebagai sarana promosi bagi kerajinan tangan dari Desa Gedambaan,” harapnya.

Salah seorang masyarakat Kabupaten Kotabaru, Octa Tri Nurhidayat menilai, ide kreatif nelayan Desa Gedambaan tersebut patut di acungi jempol dan ditengah masa pandemi Covid-19 bisa memunculkan gagasan membuat kerajinan tangan dan itu sangat berpotensi untuk dikembangkan.

“Saya akui setelah melihat langsung kerajinan yang mereka kerjakan sangat detail dan itu sangat menjanjikan bagi mereka untuk dikembangkan kedepannya serta dapat menambah nilai penghasilan yang bukan hanya sebagai pencari ikan saja melainkan juga sebagai pengrajin,” katanya.(rhm)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*