Sisi Gelap Putri Penghuni Hutan Karet Kambitin

Oleh: Erlina Effendi Ilas
(Ketua Yayasan Sayangi Sesama)

SITI Rahmah (35) tak pernah sangka jika kini suaminya pergi selamanya. Praktis setelah suaminya meninggal seolah ia pun kehilangan segalanya. Tak punya tempat tinggal dan sanak kerabat, Siti Rahmah akan berjibaku meneruskan hidup dengan seorang putrinya, Rina Wati (9) di sebuah gubuk di tengah hutan karet.

Tak ada penerangan di gubuk yang mereka tinggali. Jika malam hanya mengandalkan senter. “Pakai senter aja. Sekali isi batrai biasanya cukup buat tiga hari. Tapi setelah bapaknya Rina meninggal sering gak pakai lampu,” ujar Siti Rahmah.

Gubuk yang mereka tempati sejak bersama almarhum suaminya, Wandi, itu pun hanya tempat menumpang hidup. Mereka dapat tinggal di tempat itu karena mengerjakan sadapan karet pemiliknya. Jika tidak, mereka  tak punya pekerjaan dan kediaman.

Suaminya meninggal di gubuk hutan karet itu. Penyakit maag, sesak nafas dan TBC akut membuatnya pergi meninggalkan istri dan seorang putri yang masih kecil di tengah hutan karet. Pernah satu ketika Wandi sakit keras hingga dijemput oleh relawan pemadam tanjung untuk dibawa ke rumah sakit. Wandi menolak.

Wandi beralasan, jika dirawat di rumah sakit bagaimana harus membayarnya. Penghasilan menyadap karet, hanya berkisar 40 ribu rupiah  sehari, mana cukup buat beli obat dan lainnya. Tatamba kampung pun jadi pilihan. Namun hasilnya bukan membaik, Wandi tambah parah.

Beruntung Pemerintah Desa Kambitin turun tangan langsung.  Bersinergi dengan komunitas sosial yang ada di Tanjung, Kepala Desa Kambitin, Arbani mengevakuasi Wandi ke rumah sakit. Paralel dengan itu, Jamkesmas pun diproses oleh desa. Wandi dirawat tak lama di rumah sakit. Ia ingin pulang. Ia masih terpikir mahalnya membayar biasa perawatannya, walaupun telah dijaminkan oleh Pemerintah Desa Kambitin.

Selama lima hari Wandi di rumah sakit ditemani isteri dan anaknya. Selama merawat suaminya, praktis  istrinya tak bisa menyadap karet. Kedai Sedelah Umat (KSU) menyuplai makanan buat mereka berdua. Setelah pulang, tiga hari di gubuknya, Wandi pun berpulang.

Kini anak semata wayang dan istri almarhum kehilangan sosok pengayomnya. Semangat Wandi menjaga keluarga di hutan karet harus diserahkan entah kepada siapa lagi. Keluarga tak punya, sanak famili tiada, tetangga pun terpaut jarak yang lumayan  jauh. Jika terjadi apa-apa di hutan itu, tak sesiapa yang cepat menolong.

Tapi Allah swt yang bertata dalam hidup ini. Allah kirimkan relawan sebagai wasilahnya menolong Rina yabg kini yatim dan ibunya yang  janda dhuafa.

Ada  Komunitas Sayangi Sesama (KS2) dan Koperasi Syariah Tabalong  yang membelikan tanah di perkampungan, membangunkan dapur dan kamar kecil. Ada Komunitas Sahabat Surga yang menyediakan bahan papan, seng, pompa air sampai bangunan rumah selesai, ada Relawan Rentantua, Komunitas Berbagi Ceria, Komunitas Giat Sedekah, Relawan Kada Baunduran, Forum Aliansi Mahasiswa Tabalong, Sijum, Pramuka Muara Harus  yang turut berjibaku mendirikan rumah buat Rina yang yatim dan ibunya yang janda. Ada sebuah toko bangunan yang menyilakan kebutuhan semen, besi dan lainnya untuk dapur nya.

Para dermawan masyarakat Tabalong, komunitas dan relawan tersebut menjadi representatif masyarakat Tabalong yang memiliki kepedulian horizontal sangat baik.

Kini putri almarhum Wandi, Rina dan Ibunya Siti Rahmah dapat tinggal di lingkungan masyarakat lainnya. Rina tak mesti takut lagi jika hendak sekolah, tak ada hutan karet lagi yang harus dia lalui. Rina pun sudah punya teman sebayanya. Ia mulai menjalani dan menikmati dunianya dan mulai melupakan sedihnya akibat ditinggal ayahnya. Walaupun belum terpasang listrik, Rina mengaku tak takut lagi. Setidaknya masih ada cahaya-cahaya lampu dari rumah tetangga yang bisa dinikmati mata, walau di kamarnya tetaplah gelap ketika malam.

Sisi gelap putri penghuni hutan Kambitin itu hanya itu. Rumahnya yang masih gelap ketika malam. Tetapi itu tak akan lama, karena pasti ada tangan-tangan Allah yang akan menyalakannya menjadi sisi terang benderang. Allah pasti akan datangkan. Dan itu tak akan lama.*

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*