Turunkan Angka Stunting, Ini Strategi yang Dilakukan Pemkab Balangan

PARINGIN (eMKa) – Bupati Balangan Abdul Hadi membuka secara resmi kegiatan Aksi Rembuk Stunting, Strategi Konvergensi Percepatan Pencegahan Stunting dengan tema “Melalui Gerakan BALANTING (Balangan Lawan Stunting) Bersama Kita Turunkan Stunting” di Aula Benteng Tundakan, Kamis (9/9/2021).

Hadir dalam kesempatan tersebut Asisten 2 Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Kabupaten Balangan, Erwan mega karya latif, Kadis Bappedalitbang Kabupaten Balangan Rakhmadi Yusni, perwakilan Kapolres Balangan, perwakilan Dandim 1001 Amuntai/Balangan, Kepala Puskesmas Paringin, serta dari SKPD terkait.

Dalam kesempatan tersebut Bupati Balangan, Abdul Hadi juga menyampaikan bahwa Kabupaten Balangan tetap terus untuk menurunkan angka stunting.

“Langkah dan upaya kita mempersiapkan SDM berkualitas terbaik untuk masa depan pembangunan daerah kita memang tidak selalu mulus. Selalu ada batu sandungan yang mengganggu langkah kita. Stunting adalah salah satu batunya. Jadi, harus kita kikis, harus kita ratakan” ujarnya.

Lanjut Abdul Hadi mengatakan bahwa rembuk stunting ini tentu bukan yang pertama kalinya, dan merupakan bagian dari serangkaian upaya yang terus berkelanjutan, dalam rangka mencegah timbulnya kasus-kasus baru stunting di Balangan.

“Kita sudah melihat data penurunan prevalensi stunting di Balangan dari tahun ke tahun cukup menggembirakan, dan konsisten.  Untuk tahun 2021 ini, angka prevalensi stunting kita masih 20,08 persen. Jadi, masih banyak yang harus kita kerjakan untuk memastikan masa depan kita dipegang oleh tangan-tangan handal yang berpotensi maksimal,” ujarnya.

Bupati berharap,  upaya bersama dalam memajukan daerah dan mensejahterakan masyarakat Balangan, selalu mendaptkan hasil yang positif dan mendapatkan berkah.

Terakhir, Asisten 2 Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Kabupaten Balangan, Erwan Mega Karya Latif menyatakan bahwa stunting adalah ketidakmampuan anak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal akibat status gizi yang buruk, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tak mencukupi.(dri)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*